Toraja sudah sangat terkenal dengan tradisi dan ritualnya. Dalam upacara-upacara adat tradisi toraja, jumlah babi dan kerbau yang dijadikan hewan kurban seringkali menjadi ajang untuk pamer kekayaan dan gengsi.
Akibatnya tradisi mantunu (Potong Kerbau/Babi dalam jumlah besar) dilakukan secara berlebihan, terkesan pemboroson dan sangat dipaksakan, serta pada akhirnya mengorbankan kepentingan-kepentingan lain yang seharusnya lebih diprioritaskan seperti pendidikan dan kesejahteraan.
Tradisi mantunu yang berawal dari kepercayaan tradisional leluhur suku toraja juga sering dianggap tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini bahkan cenderung bertentangan dengan agama yang dianut oleh kebanyakan masyarakat toraja yaitu Kristen, Katolik, dan Islam.
Bagaimana seharusnya seorang warga toraja atau keturunan Toraja menyikapi tradisi mantunu ini?
Comments
untuk gengsi
orang toraja sekarang ini kalau diperhatikan dari budaya mantunu yang semakin boros, hanya untuk gengsi dan menunjukkan kekayaan dan kemampuan untuk membiayai pesta secara berlebihan.
ini sudah tidak bisa dibenarkan lagi dan harus ada tindakan untuk merubah pola pikir pemborosan dan gengsi ini.
ada apa dgn anda? sbg warga
ada apa dgn anda? sbg warga toraja seharusx anda mendukung adat kita ini.
ini adalah adat kekayaan budaya indonesia seharusx anda bangga dgn hal itu.
toraja dikenal di dalam dan luar negri karna adatx ini.
okelah acara mantunu memang boros tp klo mereka masih mampu kenapa anda yg pusing? yang disayangkan emang ada beberapa orang yang pinjam uang kesana kemari hanya untuk membeli kerbau. anda anggap mantunu bertentangan dgn agama? trus apa yg dilakukan pendeta sbelum mantunu dimulai? baca mantra?? haha . . .
bukalah mata lebar2, anda perlu tahu adat ini sdh tdk ada lg campur tangan dari penganut aluk todolo.
sangat disayangkan jika ada ungkapan seperti diatas yg keluar dari mulut seorang warga toraja.
BUDAYA MANTUNU VS BUDAYA TORAJA
Saya sependapat dengan orang(Toraja atau non Toraja)yang mengatakan BUDAYA MANTUNU sudah menjurus pemborosan dan saya juga sependapat dengan orang yang mengatakan Adat Toraja(kebudayaan Toraja) dan Aluk Toraya(kepercayaan masyarakat Toraja) harus bisa dipertahankan sebagai kekayaan budaya disamping juga sebagai nilai sosial kekeluargaan orang Toraja yang sangat UNIK. Kedua pendapat tersebut bukanlah dilematis karena persoalannya bukanlah boleh atau tidak kita mempertahankan BUDAYA MANTUNU tetapi sebenarnya bagaimana mempertahankan budaya tersebut dalam konteks TIDAK BOROS. Saya berpendapat bahwa yang kita butuhkan sebenarnya adalah keterlibatan Pemerintah dalam hal ini Pemimpin2 Tertinggi Toraja(Bupati dan DPRD) untuk secara berani dan tegas mendefenisikan kembali ALUK TORAYA dan mengaturnya secara proporsional dan mengawal penerapannya dengan suatu payung hukum berupa PERDA(bukan hanya membuat Perda tentang pajak potong hewan yang sejauh ini kurang jelas penerapannya,he..he..!) PERDA ini harus dibuat dengan melibatkan masukan dan referensi dari Tokoh-tokoh Adat dalam Lembaga Masyarakat Adat dan Tokoh-tokoh semua agama termasuk Tokoh kepercayaan Aluk Toraya yang sebenarnya sudah lama ada. Putuskan bersama dan laksanakan secara konsisten bersama-sama. Bukankah kita semua taat pada Hukum termasuk kesepakatan kita dalam PERDA? . Bukankah UUD '45 juga melalui proses seperti itu dalam kehidupan bernegara, bahkan sampai sekarang..? Jadi PERDA itu juga dibuat untuk mengatur jalannya kehidupan berbudaya Toraja yang BAIK dan POSITIF. Jadi yang mau menjaga GENGSI sambil MEMPERTAHANKAN ADAT TORAJA bisa Setuju..!!!?
Dari dulu jd debattebel,
Dari dulu jd debattebel, ngapain juga dipermasalahkan lagi yg penting 7annya baik aja kan, cuman pajaknya jangan diselewengkan sepenuhnya untuk pengembangan pariwisata n Rakyat tentunya ok
Pendapat Pribadi :)
Saya memiliki anggapan yang sama kalau budaya mantunu pada masa sekarang ini bisa dikatakan sebagai suatu pemborosan, mengapa upacara mantunu sangat sensitif dibanding dengan upacara adat lain semisal upacara rampanan kapa'(baca:pernikahan) hal tersebut karena upacara mantunu erat hubungannya dengan barang apa(baca:materil), imbasnya upacara mantunu lebih sensitif untuk diwacanakan atau diperbincangkan(pendapat saya pribadi hehe). Tapi saya juga tidak bisa serta merta memvonis bahwa mantunu adalah hal yang salah, kita juga harus menyadari bahwa dengan adanya upacara-upacara adat Toraya tersebut hal itu adalah salah satu upaya untuk tetap melestarikan budaya Toraya itu sendiri. Memang kalau kita melihat dari segi materi yang dikeluarkan bisa dikatakan agak berlebihan dan itu adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri, tapi dibalik itu budaya Toraya juga tetap terpelihara walaupun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak akan lagi sepenuhnya seperti pada masa-masa yang telah lalu saat nene'-nene' todolota hehe.. sesuai dengan perkembangan jaman, masyarakat yang makin modern, dan kemajuan teknologi informasi yang pasti akan mengubah suatu pola pikir yang baru, tergantung personal dan bagaimana menyikapinya. Kembali ke budaya mantunu, bukankah semuanya sudah ada aturan dan itung-itungannya (siapa yang berhak, berapa materi yang dikeluarkan, dan bagaimana hal itu dilakukan), dan juga dalam melakukan upacara mantunu keputusan diambil dari suatu pembicaraan yang bertahap dan demokratis dari pihak yang akan mengadakan upacara tersebut, yang akan menghasilkan suatu kasiturusan (baca:mufakat). Dan kalau misalnya orang yang mau/akan mengadakan upacara tersebut orang yang mampu dan memenuhi aturan, yaa kenapa tidak.. sah-sah saja.
Kalau misalnya ada yang mengatakan tujuan mantunu sudah melenceng dan hanya demi gengsi, itu terserah saja semua orang pasti memiliki tujuan yang berbeda-beda asalkan berjalan sesuai aturan mainnya aluk Toraya hehe..sah-sah saja, yang salah apabila telah melenceng dari aturan ada' yang ada.
Sekarang yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya, budaya mantunu adalah budaya yang telah turun-temurun dan masih bertahan sampai tulisan ini ditulis :), yang jadi pertanyaan mengapa budaya tersebut bisa bertahan? tak lain dan tak bukan karena budaya tersebut masih dianggap sebagai budaya yang positif bagi masyarakat Toraya (hal itu menurut pendapat saya pribadi lagi hehe..). Mungkin hal positif yang bisa diambil dari budaya ini adalah adanya nilai-nlai mengeratkan kekerabatan, kekeluargaan, kegotong-royongan, serta persatuan dan kesatuan antara orang Toraya makanya budaya tersebut tetap bertahan. Dengan adanya upacara ini, keluarga-keluarga yang mengadakan upacara bisa saling mengenal dan mengkrabkan..(lagi-lagi itu menurut pendapat saya pribadi hehe)
Dibalik itu semua, budaya Toraya adalah budaya yang telah turun-temurun baik itu rambu tuka' atau rambu solo', telah mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku orang yang terlibat di dalamnya. Terlepas dari persepsi positif dan negatifnya, budaya Toraya tidak bisa dipandang hanya dari aspek mantunu saja, masih banyak nilai-nilai yang lebih penting dan lebih utama dari sekedar budaya mantunu.
Bagi kita orang Toraya saat ini nilai "Sikamali' Siangga' Siangkaran" itulah yang perlu ditanamkan..
Padamoto..
Kikua kurre sumanga’na te allo melo totemo saba’ parayanna te kulla’ dimarassan.. :)
Mantunu sebagai budaya Toraja..
Saya sebagai orang toraja yang lahir diluar toraja, juga pada awalnya berpikir mantunu adalah budaya pemborosan..
Tetapi setelah dewasa dan mulai bergaul dengan pemikiran sesungguhnya terhadap budaya toraja, pemikiran mantunu adalah pemborosan mulai memudar dikepala saya....
Adat Toraja, tidak pernah menganjurkan orang mantunu yg boros.... Yang boros itu, ya oknum saja..
Seperti halnya anda ke kantor polisi untuk ngurus SIM dan disana anda ketemu polisi yg menawarkan anda untuk SIM tembak. Apakah bisa dikatakan ini adalah aturan dari institusi POLRI....?
Adat toraja, menganjurkan untuk mantunu semampunya saja.... Kalau ada yg bilang, karena mereka keturunan bangsawan dan harus diupacarakan dengan jumlah hewan kurban sekian, saran saya orang ini harus belajar adat toraja lebih dalam lagi....
Tentang yg mau buat perda mengenai budaya mantunu, menurut saya org itu tidak waras dan mesti ke psikiater....
Saya punya cita2 mau beli Bus Scania yang seharga 1.6M itu (menurut info sih... hehe), beberapa tahun setelahnya akhirnya saya dapat mengumpulkan uang tersebut, tapi tiba2 ada orang yang melarang saya, katanya itu pemborosan dan ada perdanya... lho..lho..Ini kan uang saya, bebas dong saya pergunakan asal tidak melanggar hukum...??!!
Dengan kata lain, kalau ada diantara orang toraja yg punya cita2 mau potong kerbau yang paling mahal untuk orang tua yg dicintainya kelak......, Apa mesti pemerintah turun tangan untuk hal seperti ini..? Urusan pemerintah itu banyak, bukan urus privacy orang...
Kalau tidak mau mantunu, ya diam aja seperti saya ini, (koment pun pake nama samaran hehe....). Kita ajar anak2 kita tentang budaya toraja yg benar, sehingga mereka bisa memilih yg baik untuk mereka...
Salama'
PS: Terbuka untuk dikoreksi
mantunu tarru'
mantunu tarru' buda?????
anggap saja bahwa mereka masih dapat bersykur dan memberi makan kepada orng banyak meskipun dalam keadaan duka "BERSYUKURLAH DALAM SEGALA HAL"
sangat jelas budaya mantunu
sangat jelas budaya mantunu bertentangan dengan agama kristen,jelas2 tertulis dalam Alkitab bhw korban sembelihan bagi orang mati adalah penyembahan berhala, kok bisa?...jawabannya sangat jelas :hewan tedong/bai yang dipotong pada upacara rambu solo/kematian dipercaya akan mengantar/kendaraaan bagi arwah si almarhum dalam perjalanan ke puya.budaya ini akan sangat susah dihilangkan karena aktor utamanya adalah gereja sendiri.
tedong birang
tappu' seng di pangallian tedong, mbai melo ke ya bangmo tu tedong birang ditunu atau sapi bangmo raka. He.he.
Sebanarnya ini budaya
Sebanarnya ini budaya bagus...
Dimana ketika keluarga/kerabat kita berduka, ada spontanitas dari hati yang paling dalam untuk membantu keluarga/kerabat kita tersebut. Nah karena dahulunya orang2 toraja memelihara ternak kerbau dan babi, maka ternak inilah yang di sembelih, untuk di konsumsi secara bersama2. Baik itu pihak yang berduka, dan pihak yang melayat. Rasa empati, turut berduka cita, dan ingin membantu tersimbol dalam mantunu.
Hal yang sama terjadi pada saat ada kerabat/keluarga kita yang menikah.
Akan tetapi, kadang2 kita sebagai orang toraja tidak memahami makna yang sebenarnya. Apalagi buat kita yang di kuasai roh "kapuji pujian", tendeng, borro, dan sebangsanya. Sehingga membuat makna dan nilai nilai dari budaya ini luntur...
Perhaps...but not at
Perhaps...but not at all...
Mungkin saudara terkasih jarang mengikuti seremonial ini. Sekarang syair ma'badong pun sudah menggunakan lagu2 rohani loh... :)
Dalami dulu
Persoalan mantunu bukan soal ya atau tidak, tapi soal "mengapa?" Kalau alasannya untuk show aja, apalagi kalau dibangun di atas pilar "corrupt" (dalam arti luas, bukan hanya korupsi) maka jawabnya: NO.
Kalau alasannya mendasar dan membawa kemaslahatan bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang 'kecil, MONGGO.
So, yang utama dalam upacara ini adalah SIPOPA'DI',bukan SIPA'DIRAN.
Seandainya upacara mantanu
Seandainya upacara mantanu ini diadakan secara sederhana, tanpa gengsi, bukan untuk ajang pamer maka:
1. Para orang tua lebih menikmati hidup mereka karena uang untuk mantanu tidak perlu diada-adakan dan bisa diberikan kepada orang tua semasa masih hidup dan sehat. Karena sebesar apapun acara kematian itu diadakan, siap yang menikmati? Yang masih hidup.... dan yang sudah mati tidak akan pernah tahu. Mengapa kita tidak mengadakan upacara syukuran apakah untuk Ulang tahun, kumpul keluarga, keberhasilan,dll. dengan acara potong kerbau, potong babi saat mereka masih hidup saja?
2. Alangkah maju dan kayanya daerah Toraja itu..... seandainya uang untuk mantanu ini diinvestasikan di sini. Ada banyak sumber usaha yang dibuka sehingga orang-orang Toraja tidak perlu merantau untuk "membangun daerah orang-orang lain tetapi membangun daerahnya sendiri.
3. Tidak banyak orang putus sekolah..... karena orang tua lebih memilih membayarkan "hutang" mantanu daripada menyekolahkan anak....
menurut pengamatan saya,
menurut pengamatan saya, telah banyak pergeseran nilai dari budaya tersebut (mantunu). suatu sisi memang ada juga benarnya jikalau kawan-kawan mengatakan bahwa hal itu meningkatkan gizi anak-anak, dan juga orang dewasa.Namun, pada pihak lain, kadang hal itu menjadi bumerang bagi "yang tidak punya". hal ini berujung pada "harga diri"...
kalau kita kembali ke makna yang sebenarnya, mantunu (tonna linonapa nene'), menggambarkan eratnya kekeluargaan, namun sekarang rupanya berujung pada "lihatlah saya".........TABE',,,,
budaya yg di adopsi dari agama kepercayaan nenek moyang/leluhur
Sudah tdk jaman lg....budaya yg di adopsi dr agama kepercayaan nenek moyang/leluhur....
hahahahahahaha...bilang aja
hahahahahahaha...bilang aja kalau gk mampu bro......
ke ma'pakenaki'......
ke ma'pakenaki'......