Diskusi Buku Ayah Anak Beda Warna

Sebuah buku tentang Toraja berjudul Ayah Anak Beda Warna - Anak Toraja Kota Menggugat yang ditulis oleh putra Toraja bernama Tino Saroengallo telah mengusik cara orang toraja memahami, meyakini, dan menjalankan tradisinya.

Dalam buku Ayah Anak Beda Warna, Tino menelanjangi politik-politik kampung atas nama adat yang harus dihadapinya ketika Ayahnya, Renda Saroengallo meninggal dunia dan harus diupacarakan secara adat. Tino juga memaparkan banyak hal tentang tradisi dan kepercayaan tradisional toraja, termasuk tentang Puang Matua dan silsilah Toraja menurut aluk todolo.

Buku Ayah Anak Beda Warna - Anak Toraja Kota Menggugat diterbitkan oleh Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta pada tahun 2008.

Nah, bagaimana pendapat saudara-saudara sangtorayan mengenai apa yang diungkapkan Tino dalam buku tersebut?

Comments

Buku seperti ini perlu lebih

Buku seperti ini perlu lebih banyak lagi. Salut untuk penulis yang berani melakukan gebrakan, membongkar permainan politik ala kampung yang penuh intrik, persekongkolan dan mengatasnamakan adat.

kepada sangsiuluran di toraja maupun keturunan toraja, terimalah kritik lewat buku ini dengan pikiran terbuka. Pertanyakan kembali kenapa adat harus begitu dimuliakan jika pada akhirnya keluarga yang berduka makin terseret dalam penderitaan demi menuruti adat.

i love toraja

Ayah Anak Beda Warna

Acara-acara adat di toraja memang sarat dengan politik dan permainan orang kampung untuk mendapatkan sebanyak mungkin sesuai keinginan mereka. Sangat memprihatinkan, karena seringkali keluarga besar yang berduka tetap dipaksa menuruti keinginan saudara-saudara yang mengatasnamakan adat. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena makin memperburuk cara berpikir masyarakat di kampung.

Tanggapan Buku

bukunya bagus.

saya sempat membacanya tahun lalu. kritik yang dibangun Tino dalam buku itun sangat tajam. Menyerang para punggawa adat Toraja. Di satu sisi kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga adat dan budaya Toraja tetapi satu hal yang perlu kita jaga adalah jangan sampai ritus adat tersebut bergeser pada pencitraan klan/trah keluarga sehingga tidak lagi membawa pesan moral melainkan pragmatis.

salama' sang torayan.

Kurre sumanga' pole paraya

# # # # # # #

Super Keren, ini tempat yang lagi rame banget diposting di Instagram.

Posted by Tamasya.NET on Wednesday, August 26, 2015